Oleh : Lufti Avianto

Sudah banyak novel atau film bertemakan cinta diutis dan diputar. Sudah banyak pula diskusi, seminar atau simposium yang membahas tema cinta digelar. Namun belum ada satupun batasan yang mampu mendefinisikan konsep yang satu ini. Dan kalau toh pun ada, pasti akan ada berjuta definisi tentang cinta. Konsep cinta memang butuh pengakuan dan pengorbanan sebagai bagian pembuktian cinta yang bersemayam dalam hati anak manusia.

Ketika manusia saling bersilang pendapat soal cinta, justeru Allah SWT sudah memberikan batasan itu untuk menunjukkan sifat-sifat manusiawi yang melekat sebagai fitrah kita. Kelaziman itu menunjuk pada dua hal; pertama bahwa cinta menumbuhkan kesetiaan dan loyalitas (Wala’) terhadap yang dicintainya. Ia akan mencintai apa dan siapa saja yang dicintai sang kekasih. Kedua, cinta juga menumbuhkan sifat melepaskan diri (Bara’) dari apa dan siapa saja yang dibenci sang kekasih hati.

Namun, sebagai seorang Muslim sejati, kelaziman itu seharusnya membawa progresifitas terhadap kualitas keimanan kita. Bahwa cinta adalah rasa dan kimia jiwa yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap hambaNya yang berperan sebagai madu yang akan menyehatkan keimanan kita. Aplikasi kelaziman cintai itu harus mengacu pada apa yang telah disyari’tkan, yakni mencintai apa dan siapa saja yang Allah SWT cinta serta membenci apa dan siapa saja yang Allah SWT benci. Inilah kelaziman cinta yang sesuai firah manusia.

Bukankah Allah SWT telah menunjukkan prioritas cinta bagi kita?
Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. ” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah:24)

Jadi, prioritas cinta adalah hal yang paling menentukan dasar cinta kita dalam menelusuri tiap jengkal kehidupan. Cinta yang disandarkan pada hawa nafsu adalah cinta yang akan menghinakan pemujanya, merusak hati dan mengeruhkan kemurnian imannya. Ia akan senantiasa jauh dari apa yang disyariatkan Islam sebagai pedoman yang paripurna dan akan cenderung semakin mendekatkan diri pada perbuatan dosa.

Sebaliknya, bila cinta didasarkan pada iman kepada Rabb sang Pemilik Cinta Hakiki, maka ketenteraman jiwa dan kemuliaan akan hadir dalam relung dan tiap nafas kita. Dalam hal ini, bukan berarti kita tidak diperbolehkan mencintai pasangan hidup (isteri/suami) , anak-anak, perniagaan yang kita usahakan dan materi lainnya. Namun harus kita pahami, bahwa itu semua harus berada pada peringkat cinta yang telah Allah gariskan, yakni diposisikan setelah Allah SWT, Rasulullah dan jihad fii sabilillah.

Bagaimana kita tahu, kalau benih-benih cinta telah bersemayam di hati dan telah bergerak aktif menghasilkan produktifitas amal yang menggembirakan bagi kita? Namun, kita bisa mendeteksi tanda-tanda cinta itu, apakah ia sudah hadir dalam jiwa, atau malah absen dari presensi hati melalui beberapa hal berikut :

  1. Ketika kita banyak mengingat Allah, maka ini merupakan tanda cinta kita kepadaNya (Al-Anfaal:2) , sebaliknya semakin kita melupakannya maka semakin kita jauh dariNya.
  2. Kekaguman kita terhadap segala keMahaanNya merupakan tahap awal benih-benih cinta bersemi kepada Allah yang Mahasegalanya.
  3. Kita rela (ridho) akan segala perintah dan laranganNya sehingga melahirkan sikap patuh dan taat tanpa ada berat hati dalam melaksanakannya (At-Taubah:62) .
  4. Siap berkorban (Tadhhiyah) adalah bagian dari tanda cinta. Lihatlah bagaimana seorang Ayah yang mencintai keluarganya, ia siap melakukan apa saja demi kebahagiaan anak dan isterinya. Apalagi cinta kita kepada Allah, itu sama artinya bahwa kita siap dan berani menegakkan syariatNya dan berjuang di jalanNya sampai titik darah terakhir.
  5. Tanda cinta juga bisa berbentuk takut (Al-Khauf) dan cemas. Cinta kita kepada Allah berarti takut karena mempunyai harapan agar doanya dikabulkan dan cemas apabila doanya tersebut tidak dikabulkanNya (Al-Anbiyaa’: 90).
  6. Ia juga mengharap (Ar-Rajaa’) melalui lantunan doanya untuk bertemu dengan yang dicintai yaitu Allah (Al-Ahzab:21) .
  7. Yang terakhir, ketika cinta telah merasuki jiwa, sang pemuja cinta akan menaati segala keinginan kekasihnya. Kita bisa menyaksikan bagaimana muda-mudi yang mabuk asmara, mereka senantiasa melakukan segala tindakan yang diinginkan pasangannya. Namun, alangkah indahnya kalau kita bisa mencintai Allah dan mematuhi segala keinginanNya.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita mencintai Sang Pemilik Cinta sejati? Benar kata pepatah yang mengatakan (Tak kenal maka tak sayang) untuk mencintai Allah, kita mesti mengenal lebih jauh Dzat Yang Mahaagung itu. Dalam buku Mahabatullah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah memberikan resep menuju wahana cinta Allah. Diantaranya:

  1. Membaca al-Qur’an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Ibnu Sholah mengatakan “Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia”.
  2. Taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardhu. Diantaranya adalah memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
  3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman :”Aku bersama hambaKu, selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu”.
  4. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk Allah lainnya.
  5. Mengenal dan merasakan 0 nama-nama Allah dan sifat-sifatNya.
  6. Menundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini. Hal ini pula akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
  7. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita akan mengantarkan kita pada cinta hakiki milikNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Maka selayaknyalah, cinta kepada Allah adalah cinta tertinggi seorang hamba.
  8. Menyendiri bersama Allah melalui sujud di sepertiga malam yang akhir. Di saat itulah Allah SWT turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk merebut cintaNya.
  9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah SWT.
  10. Menjauhi sebab-sebab yang dapat menghalangi komunikasi kalbu dengan Al-Khaliq.

Wallaahu ‘alam.

Sumber: Millist (syiar-islam@yahoogroups.com)