Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio yang akan digelar oleh Departemen Kesehatan dalam dua putaran: 30 Agustus dan 27 September 2005. Dukungan nyata diberikan dalam bentuk penyuluhan-penyuluhan ke masyarakat akar rumput di berbagai daerah agar tidak terjadi resistensi.Imunisasi polio itu sudah diperbolehkan. Kalau untuk konsumsi pangan artinya halal. Sudah diputuskan vaksin polio itu boleh dikonsumsi, kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia HM Ichwan Sam dalam jumpa pers di Departemen Kesehatan, Jakarta, Jumat (26/8).

Dalam jumpa pers persiapan PIN yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr George Petersen, Kepala Perwakilan UNICEF Gianfranco Rotigliano, Ichwan menuturkan laporan dari MUI Jawa Timur mengenai adanya resistensi imunisasi polio.

Kepentingan umum

Menghadapi resistensi tersebut, Ichwan Sam menyatakan, dalam hukum agama ada dalil-dalil fikih yang menyebut bahwa sebuah kepentingan umum harus lebih diutamakan daripada kepentingan khusus.

Bahwa sesuatu mudarat yang menimbulkan wabah dalam tingkat kedaruratan yang umum harus dihilangkan. Kalau ada hal-hal yang tadinya dianggap dilarang, maka untuk kepentingan pengobatan ada suatu dalil: sesuatu pada tingkat darurat akan menghilangkannya, tutur dia.

Ketika hal-hal ini disampaikan kepada para kiai dan ulama, menurut Ichwan, mereka sudah paham dan berjanji tidak akan ada masalah dengan vaksinasi polio ini karena untuk menyelamatkan generasi yang akan datang.

Telah disinggung dari ayat Al Quran bahwa ‘Dosalah kamu kalau kamu tidak khawatir bahwa kamu akan meninggalkan generasi-generasi yang lemah di belakang kamu kelak’. Argumen-argumen inilah yang sejak tahun 1975 digunakan MUI bersama pemerintah untuk memberikan penjelasan pada masyarakat mengenai hal-hal yang menimbulkan resistensi, misalnya penggunaan kontrasepsi ataupun kebersihan lingkungan, kata Ichwan.

Sebagai seorang Muslim, dr Hamid S Jafari dari Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Atlanta, Georgia, AS, mempertegas pernyataan MUI bahwa vaksin polio telah bermanfaat mencegah lima juta kelumpuhan.

Itu tidak bisa dibantah dengan dalil apa pun. Di negara-negara Timur Tengah, seperti Mesir vaksin polio sudah dipakai selama 30 tahun. Suatu saat di Nigeria ada masyarakat yang mempertanyakan vaksin buatan Indonesia. Karena berasal dari Indonesia, tokoh-tokoh agamanya datang ke Indonesia dan pulang dengan yakin. Kenapa di sini justru jadi masalah, kata Hamid.

Masalah dunia

Menkes Siti Fadilah menambahkan bahwa penyakit polio merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang penanganannya memerlukan kerja sama antar bangsa-bangsa di dunia. Penyakit polio menular dari orang ke orang tidak melalui perantara sehingga penyakit ini paling mungkin untuk dieradikasi dari muka bumi setelah penyakit cacar dapat dieradikasi 1978.

WHO dalam Sidang World Health Assembly tahun 1988 telah menetapkan Program Pemberantasan Polio Global, yaitu gerakan internasional untuk membasmi polio dari muka bumi.

Dari gerakan tersebut telah diselamatkan lima juta anak dari kelumpuhan akibat polio. Pada tahun 2004 terdapat 1.266 kasus polio di seluruh dunia, akan tetapi, lebih dari 90 persen terjadi di enam negara yaitu Nigeria, India, Pakistan, Niger, Afganistan, dan Mesir.

Polio belum ada obatnya, namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak balita. Karena itu imunisasi polio bagi mereka sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman kematian dan kelumpuhan. Tetapi tidak semua kelumpuhan disebabkan virus polio, kata Menkes.

Sumber: http://tausyiah275.blogsome.com/2005/08/27/mui-imunisasi-polio-halal/