Muslimah di Eropa dan Timur Tengah berkabung. Mereka berduka atas wafatnya Marwa al-Sherbini (32 tahun), seorang Muslimah berkebangsaan Mesir, yang dibunuh seorang warga Eropa di pengadilan. Muslimah di Eropa bersepakat untuk menjadikan wafatnya Sherbini sebagai Hari Jilbab Dunia.

”Sherbini bukan hanya sahidah jilbab, tapi juga korban Islamofobia, seperti yang diderita umat Muslim di Eropa,” papar Abeer Pharaon, ketua Dewan Perlindungan Jilbab. ”Wafatnya Sherbini akan diperingati sebagai Hari Jilbab Dunia.” Dukungan untuk menjadikan hari gugurnya Sherbini yang mempertahankan keyakinannya untuk mengenakan jilbab itu sebagai Hari Jilbab Dunia, mendapat dukungan dari umat Muslim di seantero jagad.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu (1/7) lalu di ruang pengadilan di wilayah timur Kota Dresden, Jerman. Ia ditikam seorang pria berkebangsaan Jerman keturunan Rusia, bernama Alex W (28 tahun) sebanyak 18 kali. Serangan itu begitu tiba-tiba. Dalam waktu 30 menit, dengan brutalnya Alex membantai Sherbini.

Sang suami yang mencoba menyelamatkan Sherbini yang tengah mengandung tiba bulan itu juga tak luput dari serangan. Konyolnya, sang suami mengalami luka serius akibat terkena tembakan petugas yang salah sasaran. Kini, Alex ditahan dan jaksa sedang melakukan investigasi terhadap tersangka pembunuhan itu.

Pada peristiwa berdarah itu, Sherbini tengah menghadiri sidang pertama pengajuan naik banding atas kasus yang dialaminya. Sebelumnya, Sherbini mengajukan gugatan atas pelecehan Alex terhadap jilbab yang dikenakannya. Alex beberapa kali melakukan penyerangan dengan mencoba merenggut paksa jilbab yang dikenakan Sherbini.

Atas tindakan rasisnya itu, pengadilan Dresden mendenda Alex, imigran asli Rusia, sebesar 730 euro atau sekitar Rp 9,85 juta. Tak puas atas putusan sidang, Alex pun naik banding. Dalam persidangan naik banding pertama itulah, Alex menyerang Sherbini dan menikamnya hingga tewas.

”Kami mendukung sepenuhnya gagasan menjadikan hari wafatnya Sherbini sebagai Hari Jilbab Dunia,” papar Rawa Al-Abed, seorang pejabat Organisasi Federasi Islam di Eropa.

”Kami juga menyerukan kepada umat Muslim di dunia untuk menggelar aksi, guna meningkatkan kesadaran tentang hak-hak Muslim di Eropa, termasuk mengenakan jilbab.

Para pemimpin Muslim mengatakan, pembunuhan terhadap Sherbini merupakan bukti berkembangnya Islamofobia di Barat. ”Apa yang terjadi kepadanya (Sherbini–Red) sangat berbahaya,” ungkap Sami Dabbah, juru bicara Koalisi Melawan Islamofobia. ”Kami telah mengingatkan bahwa suatu hari, kita akan melihat seorang Muslimah dibunuh karena jilbabnya.”

Amina Nusser, seorang guru besar teologi dan filsafat pada Universitas Al-Azhar, mendukung dijadikannya wafat Sherbini sebagai Hari Jilbab Dunia.

Jenazah Sherbini telah dipulangkan ke tanah kelahirannya di Mesir. Ribuan warga Mesir yang berduka, berbaris di belakang peti mati Sherbini, Senin (6/7). Warga di kampung halamannya marah dengan serangan tersebut dan mengutuk respons lembek Jerman.

Dalam sebuah konferensi pers, juru bicara Pemerintah Jerman, Thomas Steg mengatakan serangan tersebut adalah rasis. Pemerintah, kata dia, mengutuk perubahan tersebut dengan tindakan keras. Tak pelak, pembunuhan Sherbini mendominasi headline media-media Mesir selama berhari-hari.

Hal itu berbeda jauh dengan media-media Jerman dan Eropa. Kasus pembunuhan bermotif rasisme dan Islamofobia itu cuma menjadi sorotan kecil. Islamonline menyebutnya tak lebih dari berita satu-dua kolom di halaman kriminal biasa.

Kelompok Muslim Jerman mengkritik pemerintah, petugas, dan media karena tidak memberi perhatian khusus terhadap kejahatan tersebut. Sungguh ironis. itz/iol/hri( -)

Sumber: syiar-islam@yahoogroups.com