Bu, saya sudah pacaran selama 1 tahun dengan seorang pria. Namun, kami tidak direstui orang tua karena kepercayaan mereka terhadap mitos Jawa. Katanya arah rumah dia tidak bagus buat saya dan hari kelahirannya juga tidak cocok dengan saya. Kalau dilanjutkan hubungan ini, katanya rumah tangga kami akan selalu ditimpa musibah.

1.     Apakah kepercayaan ini mesti dituruti? Bila bertentangan dengan Islam, bagaimana mengomunikasikannya dengan orang tua dan saya tetap melanjutkan hubungan ini karena saya sudah merasa cocok dengan pria tersebut?

2.     Pacar saya itu mengaku sudah tak perjaka, tapi dia sekarang menyesal. Bagaimana sikap saya sebaiknya?

Asmaul Husna, Surabaya

Jawaban

Nanda Asma yang baik, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak mengenal ‘pacaran’, sebab Islam sudah mengatur hubungan antarlawan jenis yang bukan mahram, antara lain kewajiban menjaga pandangan (QS An-Nur: 30-31) dan tidak dibenarkannya berdua-duaan (berkhalwat) tanpa mahram, dan lain-lain. Hal ini adalah sebagai tindakan preventif (pencegahan) agar tidak terjerumus ke dalam perzinaan dan Allah telah melarang kita mendekati zina (QS Al-Isra: 32), “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Sebaiknya jika sudah cocok maka segera saja menikah untuk menghindari perbuatan yang dapat melanggar syariah.

Mengenai pertanyaan yang Nanda ajukan, jawabannya sebagai berikut:

1.Mitos dan kepercayaan tersebut jangan dituruti, karena masa depan dalam kehidupan seseorang tidak ada hubungannya dengan arah rumah dan hal-hal yang terkait dengan benda-benda di sekitar kita. Manusia tidak diberikan ilmu oleh Allah dalam hal masa depan yang belum terjadi, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Isra: 34, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Maksud ayat tersebut adalah manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, tapi mereka diwajibkan berusaha. Begitu juga dengan ikatan dalam rumah tangga, apakah akan terus langgeng pernikahan tersebut atau bubar dalam perjalanan, hanya Allah yang tahu. Namun, sebagai manusia kita harus berusaha untuk mewujudkan kelanggengan rumah tangga tersebut. Musibah dalam rumah tangga tidak akan terjadi hanya karena faktor arah rumah seseorang. Dalam QS At-Taghabun: 11, Allah berfirman, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Coba ajak orang tua membicarakan hal ini dengan bahasa yang lembut dan tidak menggurui. Kalau perlu, mintalah tolong pada pihak ketiga seperti tokoh agama yang disegani oleh orang tua untuk membantu Nanda menjelaskan masalah ini dan berdoa       terus kepada Allah semoga Dia memberi hidayah kepada orang tua Nanda.

2. Zina adalah salah satu dari dosa-dosa besar, sebagaimana dalam QS Al-Furqon: 68-69, “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.”

Kecuali, jika ia bertobat dengan sebenar-benar tobat sebagaimana lanjutan ayat di atas, yakni QS Al-Furqon: 70, “Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Seseorang yang bertobat, menurut Ibnul Qoyyim, akan menyesali perbuatan dosanya tersebut lalu berjanji tidak akan mengulangi lagi. Lalu, dia pun akan meningkatkan amal ibadahnya dan berusaha memperbanyak kebaikan-kebaikan sebagai bentuk tobat kepada Allah. Lantas bagaimana sikap Nanda? Tentu saja semuanya terserah Nanda. Namun, yang perlu dicatat di sini adalah bahwa kita tidak bisa menilai orang hanya dari tampilan di depan kita saja (apalagi terhadap pacar), sebab amat mungkin perilaku yang ditampakkan kepada orang yang dicintai bukanlah perilaku sesungguhnya.

Jika Nanda ingin menggali lebih dalam lagi tentang pacar Nanda tersebut, informasi bisa didapat dari orang lain yang lebih banyak berinteraksi dengannya, terutama orang yang tidak tahu hubungan Nanda dengannya. Dari informasi tersebut Nanda dapat menyimpulkan sendiri apakah dia telah bertobat atau tidak.

Sumber: http://www.ummi-online.com/artikel-55-berwudhu-tanpa-melepas-kerudung.html